This is default featured slide 1 title

https://img.okeinfo.net/content/2018/07/21/51/1925495/daftar-24-pemain-timnas-indonesia-u-23-yang-jalani-tc-di-bali-4Uy8D6p3tc.jpg

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, November 24, 2019

Cerita Horor di Tasikmalaya

Judul: Kamar Nomor 25

Perjalanan pulang ke Bandung yang seharusnya biasa saja berubah menjadi pengalaman yang sulit dijelaskan dengan logika.

Sore itu, setelah bertemu dengan teman virtual di Tasikmalaya, hujan turun tanpa ampun. Dari rintik kecil berubah menjadi hujan deras yang tak kunjung reda hingga malam. Jalanan gelap, jarak pandang terbatas, dan kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencari tempat menginap seadanya.

Teman saya menemukan sebuah homestay. Anehnya, bahkan dia yang asli Tasikmalaya mengaku belum pernah mendengar tempat itu sebelumnya. Namun karena tidak ada pilihan lain, kami tetap memutuskan untuk menginap di sana.

Kami tiba sekitar pukul 22.00. Suasana sepi, nyaris tanpa suara. Seorang pria di resepsionis memberikan kami kunci kamar nomor 25, yang berada di lantai dua, paling pojok depan. Dari luar saja, bangunan itu sudah terasa tidak terurus.

Saya berjalan menuju kamar sambil membawa tas di bahu kanan dan helm di tangan kiri, namun helm saya terasa lebih berat dari biasanya, mungkin saya saja yang terlalu lelah. lalu, Setelah sampai, saya masuk ke kamar yang berisi dua tempat tidur. Tanpa banyak pikir, saya meletakkan helm di bawah meja,  menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Sementara itu, teman saya sedang melakukan video call dengan pacarnya.

Beberapa menit kemudian, kami keluar kamar untuk mencari perasapan.

Saat hendak mengambil helm di bawah meja, saya langsung terdiam. Helm itu hilang.

Saya mencari ke seluruh sudut kamar, memastikan tidak ada yang terlewat. Kosong. Tidak ada. Perasaan tidak enak mulai muncul, tapi saya mencoba berpikir rasional. Kami turun ke resepsionis.

Dan di sana, helm saya ada.

Saya menganggap diri saya hanya kelelahan. Mungkin tadi tidak benar-benar meletakkannya di kamar. Mungkin hanya salah ingat.

Kami pun melanjutkan keluar.

Namun, saat di perjalanan, pacar teman saya yang tadi sempat video call tiba-tiba berkata, “Bukannya tadi Arul bawa helm ke kamar?”

Saya langsung menoleh. “Maksudnya?”

“Iya, yang hitam glossy itu kan? Aku lihat kok.”

Saya menolak mentah-mentah. Saya yakin tadi tidak membawanya ke atas. Bahkan saya baru saja mengambilnya dari resepsionis.

“Sumpah aku lihat,” katanya lagi.

Jawaban itu membuat suasana berubah. Tidak ada yang berbicara setelahnya.

Malam itu, saya mencoba tidur dengan pikiran yang terus berputar. Antara logika dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Rasa lelah memaksa saya akhirnya terlelap, meski tidak benar-benar tenang.

Keesokan paginya, kami bersiap check out.

Rasa penasaran belum hilang. Saya memberanikan diri bertanya pada resepsionis yang berbeda dari malam sebelumnya.

“Mas, yang jaga semalam ke mana ya?”

Dia terlihat bingung. “Semalam jam berapa, mas?”

“Sekitar jam 10 malam.”

Dia langsung mengernyit.

“Jam segitu nggak ada siapa-siapa, mas. Resepsionis kosong dari jam 9.”

Kalimat itu membuat saya terdiam.

Jika tidak ada siapa-siapa...
lalu siapa yang memberikan kunci kamar 25?
siapa yang semalam berdiri di meja resepsionis?

Dan satu pertanyaan yang terus mengganggu saya sampai sekarang—

Apa yang sebenarnya saya bawa saat pertama kali naik ke kamar?

Saya tidak mencoba mencari jawabannya lagi.

Saya hanya ingin segera pergi dari tempat itu, kembali ke Bandung, dan meninggalkan semuanya di belakang.

Atau setidaknya... mencoba melupakannya.